Ada Salam dari Papan Praktek Dokter !)



Ini tentang status FB-ku hari ini 26 Oktober 2010, kubuat setelah melewati beberapa papan praktek dokter yang beraneka rupa di kota Makassar! Pastinya di kota lain demikian pula adanya si papanpraktekdokter itu : beraneka rupa, warnawarni, mungkin ada yang segilima? Bahkan bulat? Entahlah…

Heiii…. yang membuatku terbahak adalah ada dokter yang mungkin merasa ndak cukup “menuliskan semua tentang dirinya” di papan yang mestinya cuma seukuran maksimal 60 x 90 cm/orang itu, menambahkan kain spanduk yang berbunyi : Di sini bisa memutihkan kulit, mengurangi jerawat, melancarkan haid, menambah kesuburan pria/wanita, menyunat, dll, dll, dll! Kalo tidak salah ada 15 “kebisaannya” itu! Saya lupa apa di situ bisa cabut bulu ketiak tanpa rasa sakit tidak ya? Lupa! Nanti saya lewat saja lagi di sana, soalnya perlu untukku ! hahaha….

Dan status ini akhirnya berkembang, pro dan kontra, yang serius ato sekedar hehehe,

Mungkin ada yang bilang saya terlalu kaku menilai sesuatu! Biar saja! Bolehkah saya menyombong kalau hal ini terjadi mungkin karena saya dokter ketiga dalam keluarga inti saya, sehingga bukan lagi sesuatu hal yang istimewa untuk menjadi seorang dokter selain untuk mengabdi pada ilmu dan pasien. Entah kesombongan macam apa ini, menyombongkan kalau diriku sebenarnya tidak istimewa sama sekali! Jadi boleh dong bersikap kaku menilai sesuatu yang menurutku tidak mengikuti pakem. Untukku, menerapkan apa yang ditelan di kelas, dilihat di rumah sakit saat koasistensi/residensi, terusmenerus belajar, mengikuti aturan dan pengalaman terjun ke masyarakat selama ini adalah hal terpenting bagi seorang dokter yang baik. Semua itu membeku dalam kisaran otakku yang mungkin tidak pintar, dianggap soktau sama sebagian orang, dianggap kaku dengan aturanaturan baku, dianggap old-fashion!

Papan praktek bukan untuk “jual diri”, bos, papan itu gunanya memberitau bahwa di situ ada dokter (umum, spesialis, dukun skalipun!) yang akan berusaha semampunya untuk menolong pasien (penentuan penyembuhannya sama Yang Di Atas toch!). Tujuan kedua adalah untuk memudahkan orang yang mau antar undangan, referat, parcel, voucher diskon, dll, hahahaaaa….

Lha kalo besarnya gilagilaan, 3 kelokan jalan sebelumnya sudah berdiri tegak dengan penunjuk arah dan lampu neon (sebenarnya mudah karena tempat prakteknya dokter itu mengikuti jalur petepete kok!), trus ada yang berspanduk pula, trus ada yang dikasi cat anekawarna, menurutku ---lagi-- bunyinya jadi : “Woiiii…. Ini ada dokter OK lho, mampu mengobati semua jenis penyakit yang ada di dunia, marilah ke mari yaaaa, ditungguuuu!!”

Baiklah, sudah capek saya berceloteh. Eh ada tanggapan lain, katanya sistem pendidikan yang seharga ratusan juta yang salah! Wadhuh, pendidikan mahal itu sudah pada tempatnya, pak, mengingat zaman sekarang apaapa mahal, termasuk ilmu pengetahuan, yang salah adalah otakotak mereka yang menganggap harus cepat kembali modal dan “halal” membuat papan supaya pasien ramerame datang. Memangnya pasen itu laron? Datang di lampu terang berkerumun?

Lha… ribut lagi!

Satu yang musti diingat yaaa…. Dokter itu tidak boleh mata duitan. Karena semua sudah digariskan Tuhan. (Kalo sudah ngomongin Tuhan berarti titik ya?) BELUM!

Kalo kumpul dengan sesama dokter, jangan mulai pembicaraan dengan,

”Wei cessss…. Keluarmi jasa medik Agustus-September?”

“Adami insenftif Januari-Juni?”

“Ih… menjengkelkannya pemdaku, masa sudah satu setengah tahun insentif daerah belum keluar jugaaaa!”

“Mauku pindah ke daerah yang lebih basah, di sini kering sekali!” (Ke Jakarta saja, bos, di sana banjir sekarang!)

“Berapa potongan ke Rumah Sakitkah untuk pasien Umum/Jamkesmas/Jamkesda/Askes?”

Ini semua membudayakan sifat jelek, bos. Melatih otak untuk selalu memproyeksikan dan memperhitungkan segala sesuatu dengan duit. Apaapa yang terlatih akan lancar di kemudian hari, hal baik akan jadi baik sekali. Yang jelek akan jadi jelek sekali! Contohnya dimulai dengan : “Ah… saya mau bikin papan praktek besar berwarna merah, tulisannya putih, dengan semua keahlianku! Jangan lupa neon 60 wattnya! Sekolah mahal, kapan lagi saya punya kesempatan cari duit. Pasen pasti ramai!” Memangnya pasien laron?

Tidak bisa dihindari? Masa tidak bisa? Pasti bisa!

Tujuan luhur untuk selalu menjadi dokter yang baik pasti ada dalam sanubari kita. Tugas kita adalah mencarinya di sudut hati yang terdalam.

Memang banyak aturan yang memagari kita, bos. Aturan itu dibuat supaya kita teratur, bukan untuk menyusahkan kita, bukan pula untuk dilanggar, Dan percayalah bahwa kita harus bisa berdamai dengan garis tangan kita, jangan mencari scalpel kemudian membuat garis tangan baru di telapak kita (itu tangan digaris namanya)

Bahkan rejeki pun sudah diatur! Percaya?

Mudahmudahan tidak ada yang tersinggung dengan “celotehan” saya hari ini

Selamat hari ulangtahun IDI ke 60 (24 Oktober 2010), para dokterku. Semoga kita selalu dilindungi Tuhan dan selalu jadi dokter yang baik, Amiiin….


Dan Status FBku adalaaaah... jreng jreeeeng.....

Tenriagi Malawat Kenapa papan praktek dokter skrg tdk seragam besarx? ada yg segede gajah, ada yg dicat warnawarni! Heran, apa mereka tdk tau aturan ukuran dan warnanya atau emang skrg sdh tdk ada aturannya lagi?

*** sesuai pesan sponsor kali kaka' ato biar lebih enak bacanya

*** Tergantung banyak tidaknya pasien

*** Biar eye catching giq..nanti lama2 praktek dokter diiklankan di koran,kan susah2 tauwa sekolah belum tentu balik modal hihih

Tenriagi Malawat Semua itu ada aturanx bos! Dibagi dulu di buku Etika Kedokteran wkt wisuda dokter. Mungkinah skrg tidak? Kok rasanya seperti menjual diri?

*** masa sih k'agi?...hmm..ntar lama2 pake foto. kaya mau pemilu :)

*** Sekarang ada pelajaran bisnis kedokteran giq..hahaha

Tenriagi Malawat Seriuski? Menyedihkannya itu!

*** beda dengan masa kita, kuliah di FK skrng minus subsidi... mahal men! jadi kalo skrg ada orientasi balik modal apa salah ya...

Tenriagi Malawat Sy makin sedih melihat dan mendengar istilah balik modal, jelas tujuan sudah beda kalo begitu. Dulu ortu2 kita ngajarin : “dokter adalah pekerjaan yang baik, berdagang juga pekerjaan yang baik, tapi kalo keduanya digabung hatihati karna bisa jadi tidak baik”. Sy tetap berpendapat papan besar dan warnawarni adalah "jual diri"

*** tahun lalu ada keponakan kami yg masuk jalur mandiri FK Unbra.. sy kaget tidak alang kepalang mendengar bunyi diatas 100jt; jika demikian adanya sistem pendidikan kita saat ini... maka dokter sebagai profesi pengabdian kehilangan rohnya.. memang menyedihkan!

Tenriagi Malawat Pendidikan memang mahal mas, tp tidak perlu "balik modal" dgn cara2 "lucu" seperti ini dong. Kembali ke orangnya deh. I think, good doctors and good rules can help others better than anything

*** sistem pendidikan harus diubah kak agi, kita boleh idealis apalagi waktu jaman saya SPP hanya Rp180.ribu sampai selesai tanpa biaya tambahan apapun, namun kita tidak boleh menutup mata bahwa anomali itu ada_
memang jalur kami jelas: fairly"...lulus UMPTN" bukan beli pendidikan seharga ratusan juta itu, ini yang merusak, ketika permintaan pasar begitu tinggi akan "pemaksaan diri untuk menjadi dokter meski otak pas2an" maka uang berbicara, saya tidak bilang teman2 yang membayar lebih untuk masuk kedokteran ini bodoh, malah mereka (kebanyakan) pintar memanfaatkan momen mengubah mindset tujuan mereka dalam "pengembalian modal" ini, sehngga tampak (contohnya di daerah kami) ada dokter yg tiap kumpul komite medik ngomongin duiiiittttttttt melulu.. ini parah dan memalukan! maaf sekedar share kak

*** Indonesiana. Aturan dibuat untuk dilanggar. Hasil dari reformasi. Kebebasan dalam segala hal. Semoga kita kita tidak.

*** Pengaruh kapitalisme dr. Agi, jangankan papan praktek, nilai-nilai colegial pun sdh hampir punah.


Note : read me, please!!

- - Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/per/iv/2007 Tentang izin praktik dan pelaksanaan praktik kedokteran (http://pdgi.or.id/assets/files/2009/Peraturan_Menteri_Kesehatan%20512%20TH%202007.pdf)

- - Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia

_________________________________________________________________

PAPAN PRAKTIK

  • Papan nama berukuran 40x60cm, tidak boleh lebih dari 60x90cm, cat putih dengan huruf hitam.
  • Cantumkan gelar yang sah dan jenis pelayanan sesuai dengan SIP, dan waktu praktek.
  • Papan tersebut tidak boleh dihiasi warna atau penerangan yang bersifat iklan.
  • Seandainya tempat praktek berlainan dengan tempat tinggal, dapat ditambahkan alamat rumah dan nomor telepon,
  • Tidak dibenarkan dicantumkan dibawah nama, bermacam macam keterangan seperti Praktek umum terutama anak anak dan wanita’ atau ‘tersedia pemeriksaan dan pengobatan sinar’, dsb.
  • Hanya dalam hal hal tertentu saja, papan praktek seorang dokter dapat dipasang dipersimpangan jalan yang menuju kerumahnya dengan gambar tanda panah menunjukkan ketempat praktek, dengan alasan untuk kemudahan
    mencari alamatnya.



Sumber: Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia

1 comment:

jasa pembuatan website jakarta said...

Tulisan anda sangat meninspirasi, saya jadi tau kalau plank nama dokter sudah ada aturannya.

 

THE SOUL © 2008. Template Design By: SkinCorner