Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts
My First Ompong
Karena libur sekolah maka setiap hari sejak minggu lalu saya disuruh ikut pergi ke tempat kerja Ibu, Papa atau Puang Ibu. Bergantiganti. Siapa saja di antara mereka yang waktu dan pekerjaannya ringan hari itu, saya akan ikuti sepanjang hari.
Kadang di RS tempat mereka bekerja banyak juga anakanak dokter atau perawat yang ikut orangtua mereka, akhirnya saya punya beberapa teman, kadang lebih muda dari saya, sepantaran atau lebih kakak. Bila kebetulan tak ada anakanak, saya bermain dengan perawat yang juga sedang ringan pekerjaannya. Mereka menemani saya ngobrol atau menggambar.
Sebelum ke RS saya dibekali makanan dan minuman, buku cerita atau buku gambar plus klerwarnanya, kata Ibu supaya tidak rewel dan mengganggu orang lain. Tapi sebenarnya saya lebih suka main kelereng, main gambartempel/wayang atau kejarkejaran dan main petakumpet dengan temantemanku itu. Kadang juga saya mengambil kertas yang banyak tertumpuk di atas meja atau di dalam lemari lalu melipatlipatnya menjadi pesawat terbang yang kemudian kutiup dan kulayangkan ke depan. Pesawat kertas akan terbang indah akibat tiupanku! Betulan! Coba saja melempar tanpa ditiup, pesawat akan jatuh dan tak jauh melayang. Musti kutanyakan ini bagaimana mekanismenya pada Papa suatu waktu kelak.
Tak bisa kutanyakan pada Ibu, karna Ibu kadang cerewet memeriksa kertas pesawatku, katanya, "Attiiiiisssss.... dari mana lagi kau ambil itu kertas? Janganjangan kertas penting buat akreditasi!!!"
Apa itu akreditasi? Musti kutanyakan juga pada Ibu suatu waktu kelak.
Ibu juga suka mengomel kalau saya ketahuan naik di brankar untuk menerbangkan pesawat. Dia selalu takut saya jatuh. Padahal mustinya dia berpikir, bagaimana bisa menerbangkan pesawat bila tempatnya tidak tinggi. Langsung jatuh ke lantai toch! Tidak melayanglayang dulu.
Nah, hari ini saya direncanakan untuk ikut Ibu ke RS. Tadjuddin. Setelah mandi, saya duduk di depan TV menunggu Ibu siap.
Tapi tibatiba Puang Ibu menyuruhku untuk ikut dengannya ke Dadi, tempat kerja Puang Ibu. Katanya, "Ayo ikut sama Puang Ibu ke Dadi, sebentar kita pergi cabut gigimu, lalu kita pergi makan gadogado!"
Ah.... enaknya itu gadogado, saos kacangnya banyaaaak, telurnya 1 dan kerupuknya lebaaaar.....
Tapi cabut gigi?
Saya berusaha menolaknya, takut, kataku, "Ikut Ibu saja, Puang Ibuuuuu..... cabut gigi sakiiiiit"
"Tidaklaaaah.... itu gigimu sudah goyang toch, cuma sedikit digoyang saja akan tercabut. Lagipula gigi di belakangnya sudah tumbuh, kalo tidak dicabut bisa jadi seperti giginya Barong yang bersusunsusun. Ayoooo, baru kita pigi makan gadogado!"
"Ibuuuuuu....." seruku meminta pertolongan Ibu. Tapi rupanya Ibu setuju dengan perintah Puang ibu. Saya menyesal tadi tidak ikut Papa saja. Ibu betulbetul payah nih, tidak berusaha menyelamatkanku sedikit pun!
Akhirnya waktu cabut gigi pun tiba
Tidak usah saya ceritakan betapa sakitnya saat gigi itu ditarik keluar.
Padahal sebelumnya dikasi jelly strawberry dulu yang kata dokter gigi supaya waktu giginya keluar tidak nyeri.
Huh.... apaan tidak nyeri, it's nyeri sekali!! It's very very nyeri!!
Saya berteriak kaget, "AAA........!!!"
Trus saya disuruh gigit kapas.
Supaya tidak berdarah. Semua orang tertawa dan bertepuk tangan.
Kata mereka, saya anak pintar, dan berani, dan jagoan, dan kece (yang di belakang itu saya saja yang tambahkan, supaya lebih OK)
Tapi sebenarnya saya kecewa.....
Gigiku ompong, sakit dan tidak dijajanin gadogado, karena tidak bisa mengunyah!!
Sepertinya saya tertipu!
Hm.... tapi saya tidak boleh terlihat cengeng, saya musti cerita ke Ibu dan Papa kalo saya berani, cuma berteriak sedikit. Sedikit sekali....
Waktu sekecil saya, pasti mereka takut sama yang namanya dokter gigi deh!
Pasti mereka mengkerut dan menangis sejadijadinya bila diajak ke dokter gigi. Tidak seperti saya. Saya yakin itu.
*besok musti jadi pigi makan gadogado
*mudahmudahan tidak tertipu lagi
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Tuesday, December 29, 2015
RAPORT
Raport berasal dari bahasa Belanda, artinya laporan, berisi barisan angka atau huruf hasil pekerjaan dan penilaian. Baik buruknya hasil tersebut adalah simpulan dari rentetan testes.ulanganulangan.ujianujian selama ini.
Raport itu dibagikan tiap akhir catur wulan atau semester, sesaat menjelang libur
Jadi bisa dikatakan angka di Raport dapat menentukan kita bisa bersenangsenang selama liburan atau tidak
Bayangkan kalau raport jelek, pasti dapat omel orangtua,
"Kok angkanya rendah?"
"Kenapa kamu tidak ranking?"
"Apa saja yang kau pelajari selama ini, sampai angkamu jelek?"
Orangtua yang mengajukan pertanyaan seperti ini mungkin tidak pernah menganalisa :
- apa penyebab nilai anaknya rendah
- kenapa anaknya tidak ranking
- apa saja yang dipelajari anaknya selama ini
Dan pertanyaan yang paling penting adalah : ORANGTUA KE MANA DAN NGAPAIN AJA SELAMA INI ??
Sistem sekolah juga mungkin perlu dicermati, apakah perlu betul ranking itu?
Untuk apa ranking diadakan?
Kenapa musti dipertandingkan?
Kementrian Pendidikan perlu lebih teliti mengamati, bahkan bila perlu mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak. Kita perlu mempertimbangkan apakah tidak lebih baik kalau diseragamkan saja semuanya : ranking dihapus saja. Institusi yang bergerak di bidang pendidikan pun tentunya bisa lebih fokus pada kemajuan individu (anak) dari waktu ke waktu, bukan memperhatikan ranking yang naik turun di antara siswanya.
Ingat, anak adalah individu.
Anak bukan orang dewasa dalam bentuk mini.
Setiap anak adalah istimewa?
Setiap anak sama hak dan kewajibannya di sekolah, juga dalam hal bermain dan bersenangsenang dengan kawan seumurannya.
Dan, selayaknya, ini bukan untuk dipertandingkan.
Bukan untuk diranking :
menjadi yang paling pintar di kelas,
nomor 2 terpintar,
nomor 3,
sampai anak yang terbodoh di kelas (bisa saja, bila memang diurut)
Perasaan menjadi ranking 1 pastinya senang, karena misalnyaaaaaa...... mendapat hadiah setumpuk buku cerita yang dibeli di Gramedia Pasar Senin lantas ditraktir di restoran Sate Betawi terenak seJakarta, boleh minum teh Sosro sampai 2 botol pun PapaIbu okeoke saja
Tapi proses menuju ke ranking itu panjang, sosodara sekalian, berliku, sulit, terjal (apaan sih....) Syukursyukur bila saat ujian tidak sakit.
Trus bagemana perasaan anakanak lain yang mau juga merasakan jadi ranking 1? Seandainya bisa bergiliran atau bergantian....
Banyak cara untuk melatih semangat berkompetisi.
Anakanak yang suka menari atau menyanyi atau melukis atau kesenian lain dikumpulkan, dilatih bersama, lantas dipertandingkan.
Anakanak yang hobby berdebat (tidak termasuk mendebat orangtua dengan kepala batunya) dikumpulkan dalam tim debat, dibimbing lalu dipertandingkan.
Anakanak yang jago fisika, kimia, matematika, bahasa Arab masingmasing dipertandingkan (mudahmudahan tidak ada pertandingan fisika-kimia-matematika dalam bahasa Arab, sulitnya itu!!)
Anakanak yang suka olahraga saling diperlombakan.
Bahkan anakanak yang tidak suka semuanya, boleh dudukduduk di tepi lapangan menjadi Tim Hore, yang yelyelnya paling oke juga mendapat hadiah....
Semua senang
Semua bahagia
Oh ya jangan lupa, anakanak itu harus dipersiapkan pula mentalnya sebelum bertanding, sapatau ternyata kalah!
Mereka yang kalah harus dibesarkan hatinya bahwa walaupun tidak menang mereka adalah orangorang pilihan dari sekolah mereka, mereka tetap yang terbaik!
Untung saja sekolah Attis tidak menganut paham ranking ini
Mereka percaya semua anak istimewa, semua mendapat perhatian yang sama banyaknya.
Orangtua tidak dikumpulkan dan diumumkan siapa yang menjadi yang terbaik semester ini, tapi orangtua dipertemukan satu persatu dengan wali kelasnya, kami ngobrol soal angkaangka anak, soal tingkah laku mereka, soal perkembangan mereka selama 1 semester ini.
Angka yang tercantum di Raport pun adalah akumulasi monthly test dan ulangan semesternya
Dan disajikan dalam 3 lajur angka : angka standar sekolah, angka pribadi anak dan angka ratarata kelas.
Saya sebagai orangtua sangat senang dengan metode ini, apalagi melihat angka anak yang hampir semua jauh di atas ratarata standar dan ratarata kelas,
Saya ngakak ketika tau angka Mandarin Attis standar saja, tapi tertutupi oleh angka Sciencenya yang tinggi. Di situ saya makin yakin kalau dia bukan orang Tionghoa, tapi aseli Belanda (lho....).
Saya jadi tau bahwa dia sangat cepat menangkap pelajaran Ilmu Pasti dibanding yang lain
(mungkin bisa saya mulai mencicil peralatan kedokteran untuk Attis mulai sekarang!!) --> sabar Ibuuuuuuu.......
Saya juga tidak merasa perlu tau anak saya ranking berapa atau siapa anak terpintar di kelasnya karena itu tidak penting buat saya, buat sekolah, buat anak.
Begitulah
Itu pengalaman pertama saya menerima raport semester kelas 1 SD untuk Attis.
Ini foto tadi pagi waktu sedang antri.
Mudahmudahan selalu begitu
Dia tetap pintar, sehat dan selalu bahagia
Dan saya tetap narsis....
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Monday, December 21, 2015
Keep Calm and Play Music
Ada cerita sedikit,
Dahulu kala, di abad yang lalu, ada seorang anak perempuan yang tergilagila pada musik, bermimpi jadi pemusik, pemain gitar, pemain piano, pemain biola, pemain gendang, penyanyi, apa saja.... pokoknya ada hubungannya dengan nada dan irama.
Kelas 2 hingga 4 SD, dia sempat sekolah siang di Madrasah dekat tempat tinggalnya. Di pagi hari dia pergi bersekolah umum, siangnya sekolah mengaji hingga dekat waktu maghrib. Di sana selain belajar mengaji, membaca huruf gundul, menghapal ayat dan syariah, dia juga belajar memainkan rebana. Rebana gendang yang terbuat dari kulit kambing dan rebana ketimpring/krecekan yang tebuat dari logam yang bila digoyangkan akan menimbulkan bunyi krincing yang cukup nyaring. Rebana adalah alat musik perkusi yang diperlukan untuk keperluan shalawat atau apalah namanya waktu itu (kalau sekarang sih nashid/nasheed/acapella). Dengan iringan hentakan rebana dan alat musik lainnya terlantunlah lagu dan pujipujian pada Yang Kuasa. Selain itu acara adat seperti pernikahan atau penyambutan tamu di daerah juga menggunakan alat ini sebagai tetabuhan.
Udztas Goni dan Udztas Jaelani, dua bersaudara pemilik madrasah selalu menyambut anakanak di depan pintu kelas setiap pukul 2 siang. Mereka melewati kedua Guru itu sambil mengucapkan salam lantas masuk ke dalam kelas. Tidak mencium tangan karena sudah berwudhu, lalu kelas pun dimulai.
Hari mengaji adalah dari Senin hingga Jumat. Setiap hari mereka membaca dan menghapal ayat sebanyak yang Udztas minta, membaca huruf gundul dan mempelajari tafsirannya. Tidak setiap hari mereka diberi pelajaran membunyikan rebana pun mendendangkan nasheed. Tiap tiba waktu bershalawat pun lebih sering Udztas yang menghentakkan tetabuhan pengiring nada.
Tapi bila kelas sudah usai, anakanak boleh meminjam alat musik itu dan membunyikannya perlahan sambil menyanyikan lagu apa saja. Tidak bisa lama karena waktu maghrib cepat tiba. Bila sudah harus beranjak pulang maka anakanak menyalami udztas, mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kanan salah seorang guru agama yang masih menjaga mereka sampai bubar itu. Tangan udztas harum sekali, wanginya merasuk tajam, meninggalkan jejak memori di gyrus otak si anak perempuan tersebut dan pastinya juga pada temantemannya. Lama berselang sejak itu, barulah mereka tau, bahwa tangan yang wangi itu disiram dengan harumharuman dari Tanah Arab, baunya sama dengan minyak yang dilabur ke batu Kabah, sama dengan wangi yang tercium bila kita masuk ke toko parfum di Mekkah dan Medinah. Kelak di kemudian hari, saat mengaromai wangi seperti itu lagi, langsung terkenang guru mengaji yang tangannya harum dan memainkan rebana dengan penuh semangat
Sesampai di rumah, karena masih terbawa adrenalin dan kadang wewangian dari bekas salaman di Madrasah, biasanya si anak perempuan masih menggumamkan lagulagu terakhir dan lemari pembatas kamar antara ruang tamu dan ruang makan menjadi sasaran. Menjadi gendang yang ditabuh.
Kadang diakhiri dengan baik, kadang pula berakhir dengan omelan Ibu atau Papanya yang menyuruh shalat maghrib.
Saat duduk di kelas 5 SD si anak perempuan dikenalkan dengan gitar klasik. Seorang kakak sepupunya memiliki gitar Yamaha klasik dan sangat piawai memetiknya. Si anak perempuan pun diajar memainkan lagu Happy Birthday dan Burung Kakatua.
"Kapan saya bisa main seperti Abang?" tanyanya bila si Abang mempertontonkan keahliannya.
"Sabaaaar.... semua ada waktunya, belajar yang gampang dulu..."
Dan gitar pun berpindah tangan
Menjadi milik si anak perempuan dan jrengjreng sendiri dengan modal jago-gitar-dengan-jurus-tiga-chord.
Inipun kadang berakhir baik, namun sayangnya, lebih sering berakhir dengan kalimat ini, "Main gitar teruuuuus.... ko mo jadi pengamenkaaah? Belajar!!"
Itu titah. Harus dilaksanakan. Belajar!! Belajar! Belajar.
Syukur, si anak perempuan itu sempat mengenyam kursus gitar di Yamaha Music School selama 8 bulan, bahkan sempat manggung di acaraacara sekolah SMP dan SMAnya
8 bulan? Delapan bulan? Iya hanya 8 bulan yang sempat diikutinya karena diakhiri oleh Papanya yang tidak mau mengantar kursus lagi.
"Kenapa kau kursus di Radio Madama?" tanya Papanya
"Radio Madama di lantai 3 Pa, kursus musiknya di lantai 2" jawab si anak perempuan
"Bukannya Yamaha itu toko alat musik saja?" tanya Papanya lagi
"Iya, tokonya di lantai 1 toh Pa, ituuu ..." tunjuknya melalui kaca toko, "Kursusnya di lantai 2"
"Tapi tidak ada temanmu Papa lihat..."
"Ada Papa..... kursusnya di lantai 2....."
Dan tidak lama berselang, berhentilah semuanya.
Perkenalan dengan keyboard juga melalui seorang kakak sepupu. Dia memiliki sebuah keyboard merk Roland. Si anak perempuan selalu merengek diajar dan sedikit banyak ilmu pun berpindah. Ilmu turunan otodidak sebetulnya. Karena modalnya hanya bukubuku belajar keyboard sederhana dan buku lagu yang sedang trend di masa itu dari Gramedia. Namun karena si Abang lebih piawai mengiringi menyanyi, maka si anak perempuan itu pun lebih senang beryanyi akhirnya. Jago-keyboard-dengan jurus-5-chord pun sudah cukup untuk saat itu.
Kelas privat keyboard 3 bulan pernah pula dia ikuti. Ini punya tantangan yang berbeda.
Si anak perempuan sudah tumbuh besaaaaarrrrrr....... sudah nikah dan punya anak malah! Jadi sudah wanita, bukan anak perempuan kecil lagi.
Papanya pun sudah tak ada, tak ada lagi yang melarang main musik.
Tapi kursus yang hanya 3 bulan itu kadang dipenuhi dengan rasa frustasi berkepanjangan.
Jemari wanita ini tidak selentur jemari anakanak kecil lagi
Jemarinya sulit disuruh menari di atas tuts. Otak pun agak guncang bila disuruh bertugas lebih, antara motorik tangan kiri yang harus menekan chord dan tangan kanan yang bertanggungjawab untuk melodi, serta menghapal paduan nada yang timbul dari beberapa tuts yang ditekan sekaligus. Juga uruturutannya, manalagi tempo dan iringan background instrumennya.... aaah......
Manalagi saat jam kursus usai, dia keluar dan bertemu dengan anakanak kacuping yang juga baru bubar dari kelas sebelah, tatapan mereka menghujam sampai dalam dada, nyaris tiba di tulang belakang, saat mereka mencocokkan buku mereka yang ternyata sama dengan buku yang wanita itu pegang. Tak ada anak kecil yang ditunggu, tidak pula sedang mengantar kursus anak tetangga.......
"Tante kursus juga?" .... aaah.....
Maka dengan kesadaran penuh, wanita itu menetapkan bahwa petualangannya memainkan alat musik mungkin memang hanya sampai level 3 atau 5 chord saja.
Mungkin lebih baik dia jadi penyanyi!!
Dan foto di atas adalah foto pemain keyboard yang kelak akan mengiringi wanita itu bernyanyi.
Dia sudah menawarkan diri kok, "Ibuuuuu.... kalau Attis sudah pintar main, Ibu menyanyi dan Attis main kibor toh Ibuuuu......"
Senang kan.
Gantunglah citacitamu setinggi langit
Urusan tercapai atau tidak, tergantung Yang Maha Penentu saja
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Tuesday, December 08, 2015
Ibu dan Attis
Digambar tepat setahun yang lalu 28 November 2014
Dan disodorkan dengan penuh cinta oleh my very gagah boy : Attis
Katanya, "Ibuuuu, ini ibuuuu..... ini Attis...."
Can you see that I am wearing a very beautiful necklace?
Oh my Attis, you are my priceless long necklace, I keep you around me, in front of my beating heart, near to my twin lung, and always in my mind
9 Taong Sudah
Rindu paskali deng dia
9 taong sudah dia pigi kastinggal beta
Lha masih jalas kaingatang dia pung baehati,
dia pung kasisayang,
dia pung palukang,
dia pung cikulucikulu voor beta (itu kagiatang aneh, kastempel dahi deng dahi, dia bilang, "Ciiikulucikulu' ini anaknya Papa, pintar lebe pintar dari beta eee, bae lebe bae dari beta eee, sayang Agi eeee..."),
dia pung tagas,
dia pung parhatiang,
dia pung gaya,
dia pung cara bajalang,
dia pung cara tasanyong,
dia pung cara baganggo,
dia pung baehati (ini su ditulis partama maar seng cukup, harus baulangulang)
Tuang Allah eee... dia ada baebae di sana to, bajanji jua voor beta kase tampat par dia yang bae eee...., yang tarang... yang sajuk, yang paling bagus eee....
Umpama beta bole kiring polo ciong voor dia, kase sampe jua Tuang eee....
Beta rindu paskali...
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Monday, November 16, 2015
Demam dan Belajar
Sudah sarapan, sudah minum obat, sudah cuci badan, sekarang waktunya belajar Mandarin
Mudahmudahan besok ndak demam dan ulangannya lancar
Masih Demam
Pagi ini saya masih demam
Tapi tetap kuat makan roti dan minum susuuuuuu.....
Ibu sibuk sekali larang saya jogetjoget dan mengoceh, kata Ibu nanti demamnya tidak turun kalau banyak goyang dan bicara
Jadi sekarang saya baring luruslurus dan tidak menjawab pertanyaan Ibu. Kan disuruh diam!!!
Tapi kok tidak enak yaaaaaa.....
"Ibu, kita lagalaga yuuuuk......"
Aaaaa... Ibu melotot lagiiiiii.....
Demam dan Monthly Test
Seperti biasa monthly test akan dilaksanakan Senin ini dan Attis mulai mencicil pelajarannya sejak Kamis kemarin.
Sayangnya dia tibatiba demam semalam, entah kenapa. Mungkin kecapekan, mungkin kurang istirahat, mungkin kurang minum. Tidak mau saya berpikir sakitnya ini akibat virus atau bakteri, atau penyebab yang lebih seram lagi.
Yang jelas sejak semalam kupeluk dia dan berdoa dalam hati supaya demamnya pindah saja ke saya.
Pagi ini demamnya turun, tapi badannya tetap hangat dikit, tapi dia minta belajar. Jadilah begini, setelah minum susu, sarapan dan minum obat, dia duduk bersandar membaca buku PKNnya sebagai cicilan untuk ulangan hari Selasa.
Doakan Attis cepat sembuh ya.
Semoga ulangannya lancar juga.
Guru
Ada frase lama berbunyi : "Guru itu diGUgu dan ditiRU" (sepertinya ini bahasa Jawa, karna tak ada dalam kamus bahasa Belandaku) memiliki makna dan falsafah bahwa sosok seorang guru dapat dipercaya dan ditiru.
Saya kurang setuju.
Karna ternyata yang saya alami, tidak semua guru dapat dipercaya dan ditiru. Guru itu memang selalu memberi kita contoh. Ada contoh baik, namun ternyata ada pula contoh yang kurang bahkan tidak baik.
Padahal sebenarnya dalam berbagai kegiatan berkehidupan, masyarakat berharap guru selalu jadi tauladan dan panutan.
Sebenarnya, saya tibatiba teringat saja tadi pagi, tapi baru sempat diketik sekarang, saat semua kesibukan sudah mereda, setelah selesai menemani kawan junior calon dokter bedah menyelesaiksn operasinya.
Sebenarnya, bukannya tidak percaya pada kemampuan junior saya, mungkin secara teori dia lebih pintar dari saya, tapi saya merasa memang sudah jadi tugas saya menemani dan membimbingnya sampai masa tugasnya berakhir di sini. Jadi bukanlah buangbuang waktu menenaninya setiap hari. Karna yang saya lakukan adalah memberinya bekal untuk dipakai kelak setelah dia selesai sekolah bedah.
Mudahmudahan semuanya contoh baik.
Saya berusaha menjadi guru yang baik, yang patut digugu dan ditiru.
Lantas guru yang memberi contoh yang kurang baik? Guru yang tak pantas digugu dan ditiru?
Suatu waktu dulu, saya kerap menemani seorang dokter anak praktek. Kadang saya datang awal, sebelum beliau datang.
Di luar tempat prakteknya sudah berjejer anak sakit beserta orangtuanya masingmasing yang berasal dari berbagai kalangan. Kaya, miskin, saudagar, PNS, nelayan, petani, tukang kayu, dan sebagainya.
Lalu dokter datang dan praktek pun dimulai.
Yang membuat saya miris, bila Ibu datang sambil menggendong anaknya yang beringus berpenampilan cantik, rapi dan bersih, maka serta merta sang dokter berujar keras, "Ya ampun Ibuuuu..... bagaimana anak ibu ndak sakit, Ibu terlalu sibuk urus diri sendiri, anak ndak diperduli!!!"
Tapi bila anak datang bersama Ibu yang hanya memakai daster dan bau bawang, maka dokter itupun mengomel, "Ckckck.... makanya anaknya sakit, Buuuuuu.... Ibu rantasa' sekali!!"
Dokter, taukah dokter masalah apa saja yang sudah dilalui si Ibu hari itu?
Sejak itu saya bersumpah tidak akan jadi dokter seperti itu.
Saya juga sangat ndak suka sama dokter yang mata duitan. Ah... memang dokter makin ditekan belakangan ini, masalah jasamediklah, remunerasi dan lainlain, tapi hendaknya jangan merugikan pasien, misalnya dengan demo atau aksi mogok pelayanan garagara jasamu disedikitkan, kawan. Jangan sampai amalan dan pahala kita buyar!!
Nah ini cerita sisi yang satu :
Bila mendapat guru yang baik, apalagi plus pintar dan perduli, biasanya saya langsung jatuh cinta. Saya contoh abisabisan! Andai bisa saya ikuti langkahnya ke manapun agar terkopi semuanya, pasti akan saya lakukan.
Misalnya yang satu ini.
Dia dokter bedah, tak usah disebut subspesialisasinya, nanti dia GR.
Caranya bicara pada pasien di poli, caranya cuci tangan dan membiarkan sabun steril tetap di tangannya tak dibilas lagi kecuali dengan alkohol di dalam OK steril, caranya pasang kain operasi, caranya insisi dan mengambil keputusan, caranya visite, caranya marahmarah bila ada tumpukan piring dan rantang kotor di bawah ranjang pasien, caranya membimbing anak didik, semuanya saya kopipaste!!
Ah.... banyak berkatta' dokter, banyak rejekita, selaluki sehat dan tetaplah begitu.
Duh paragraf berikutnya ini agak berat. Saya berkacakaca juga mengenang guru yang satu ini. Dia, Papa
Tau ndak, dulu saya sudah pula bersumpah bakalan jadi dokter yang tidak mata duitan sepertinya. Yang tegas pada aturan, tidak KKN, perhatian penuh pada tugas dan kewajiban.
Tau ndak, seorang perawat senior bilang memang saya mirip dia, jahilnya terutama, juga detailnya waktu wawancara pasien. Lama sekali urus 1 pasien di poli bedah. Hehehe... terlalu serius kopipaste, giq?
Guru itu mestinya selalu memberi contoh yang baik karena guru itu orang yang patut diteladani.
Yayaya...
Mudahmudahan Attis bisa juga selalu melihat halhal baik dalam diri Ibunya ini, amiiin
*happy starting weekend, friends
*banyak cinta, tawa dan bahagia buat kalian semua
💙💚💛💜
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Friday, November 06, 2015
Bendera Brazil dan Duit 50rb
Apa hubungannya bendera Brazil dengan duit 50rb?
Jawabannya ndak ada
Tapi bagi Attis ada, punya hubungan, erat malah.
Pada suatu malam, setelah dia mengatur bukunya untuk dibawa ke sekolah esok hari dia ngomong gini ke saya, "Buuuu, I forgot bring my communication book today, so my teacher said that I should talk to Ibu, we should buy Ticket to Brazil!"
"Haaaa?? TICKET TO BRAZIL?"What is that mean, honey?"
Dia mengulangi, "I forgot to bring my communication book, so Miss Ocha couldnt write task for tomorrow!"
"Oh my...., so what is ticket to brazil? Where would we buy it?"
"I dont know..."
The next day... eh.... hari berikutnya, pernyataan yang sama dia ajukan tapi diperjelas, "Ibuuuu... it's not TICKET TO BRAZIL but COUPON TO BRAZIL!!"
"Oh my..... where will we buy it?"
"I dont know"
"Is there any film about Brazil that you and your friends will watch? At the theatre maybe?"
"I dont know"
"Or maybe a flag of Brazil? We can go to Gramedia to buy a flag of Brazil, right?"
""I dont know, Ibu.... maybe... yaaa a flag of Brazil....." suaranya agak tegas di akhir kalimat, matanya berbinarbinar
Asal tau saja, dia memang suka sekali melihat bendera berkibarkibar! Besar dan kecil, berwarnawarni, berbagai bentuk. Dia suka sekali dan berteriak kegirangan kalau melihat jejeran kain bendera melambai, sejak dia kecil!
"Okay, I'll talk to your teacher, about the Brazilian Flag"
Lalu saya menelpon gurunya.
Ini hasilnya : pada hari Jumat besok, akan ada bazaar di KFC, muridmurid akan membeli bazaar tersebut beramairamai dan belajar transaksi di kasir. Besaran belanja maksimal 45rb, jadi akan ada transaksi senilai itu di sana nantinya.
Dan yang dimaksud dengan COUPON TO BRAZIL itu adalah KUPON UNTUK BAZAAR
Attis, hampirki beli bendera nak....
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Thursday, October 29, 2015
Welphie
Tema malagalaga malam ini adalah borrow Ibu's cameraphone and then,
"Ibuuuuu..... lemmi take a picture of you!!"
"A picture? You mean 3 pictures of us and 6 pictures of you????"
"Hihihi.... collage them, Bu, and upload it to the facebook!"
*narsista', nak
*sapa are nacontohiiiiii.....
Reading a Book
Reading The Magical Snowman as a homework
"Ibu, after finished reading this book, don't forget to sign my communication book!"
"Yayaya....., don't forget to wake me up then!"
"Ibuuuu! You should hear my reading, that's my teacher said, Ibu!"
"But Ibu is very mengantuk!! Could I sign it before you read it?"
"No, I read it first, then Ibu sign it!"
"Oh my..... and how many pages is it?"
"1...2...3... 12 Ibu"
"Oh my.... could you phone your teacher to come here and hear you read?"
"Ibuuuuuuu......!!!!"
Labels:
Family,
Love of My Life,
Tell a Story
Posted by
a.g.i.q
at
Sunday, October 18, 2015
Simpul Bahagia
Dia sudah bisa menyimpul sendiri tali sepatunya
Ada aliran sejuk di hati saya melihat kemampuannya ini
Mengikat tali sepatu membutuhkan kehalusan motorik dan keseimbangan
Hal sederhana yang kadang bikin kita gemas, selalu menolongnya dan akhirnya dia tidak pernah dibiarkan berlatih sendiri, lantas dicap manja atau bodoh.
Untuk menghindari cap itu, maka saya sebagai seorang Ibu yang tegar alaala tentara payung, tega dan keras hati, hanya mengajarnya di awal.
Dan kejadian yang selanjutnya adalah membiarkannya mengikat tali kets, longgar, dibukanya, disimpul lagi, pitanya ndak sama panjang, dibongkar lagi, disimpul lagi...
Sejak kelas 1 SDnya mulai, dia memiliki sepasang kets putih bertali
Mulanya, saya mengajarkannya menyimpul perlahanlahan.
Saya membentuk 1 pita yang dilingkarkan dengan bagian tali yang satu dan memunculkan pita baru, menariknya keluar dari lubang.
Sebenarnya cara ini lebih sederhana (walaupun menerangkannya lebih ribet :D )
Tapi ternyata Attis akhirnya lebih familiar dengan membentuk sekaligus 2 pita di depan, padahal cara itu lebih membutuhkan keahlian motorik halus lho!
Ah Attis, terima kasih sudah memberi kesempatan Ibu melihat pemandangan ini
Bahagia itu ada di sekitar kita
Bahagia itu juga ada di dalam hati kita
Subscribe to:
Posts (Atom)




















