Alis is Everything


Foto ini diklik saat acara sirkum massal Reuni Perak Smansa '91 Makassar. Sebagai korlap acara sirkum saya sibuk mondarmandir urus ini itu di sana sini.
Kalo mengoceh dan kegiatan makan bisa menghilangkan lipstik, maka acara sirkum sudah jelas bisa mengaburkan alis!!
Cari saja di mana hubungannya, yang jelas ini terjadi padaku.
Sama dengan hujan yang dapat melenyapkan lukisan alis 😊☔😊☔😊☔

Alis itu buatku kadang jadi obat PD
Bila pagipagi melukis alis OK, maka seharian bawaannya hati senang
Jadi usahakan keluar rumah dengan alis tercentang bagus.
Kalau sudah periksa pasien, kegiatan mencuci tangan di wastafel adalah juga kegiatan mengecek alis.
Jadi kalo 10 pasien poli maka 10 kali juga saya mengecek alis.
Kegiatan yang aneh.

*Kandatto'ka kalo kalian juga tidak begitu, hai parampuangparampuang pamode!!

My Blood for Others


The differences make things beautiful. And its not necessary for worrying about being different. I've learned that the traits we'd rush are actually  everyone desire. People always covet what they don't have. That's why you should say, 'I'm proud of myself and I love the way I made."

My First Ompong


Karena libur sekolah maka setiap hari sejak minggu lalu saya disuruh ikut pergi ke tempat kerja Ibu, Papa atau Puang Ibu. Bergantiganti. Siapa saja di antara mereka yang waktu dan pekerjaannya ringan hari itu, saya akan ikuti sepanjang hari.
Kadang di RS tempat mereka bekerja banyak juga anakanak dokter atau perawat yang ikut orangtua mereka, akhirnya saya punya beberapa teman, kadang lebih muda dari saya, sepantaran atau lebih kakak. Bila kebetulan tak ada anakanak, saya bermain dengan perawat yang juga sedang ringan pekerjaannya. Mereka menemani saya ngobrol atau menggambar.
Sebelum ke RS saya dibekali makanan dan minuman, buku cerita atau buku gambar plus klerwarnanya, kata Ibu supaya tidak rewel dan mengganggu orang lain. Tapi sebenarnya saya lebih suka main kelereng, main gambartempel/wayang atau kejarkejaran dan main petakumpet dengan temantemanku itu. Kadang juga saya mengambil kertas yang banyak tertumpuk di atas meja atau di dalam lemari lalu melipatlipatnya menjadi pesawat terbang yang kemudian kutiup dan kulayangkan ke depan. Pesawat kertas akan terbang indah akibat tiupanku! Betulan! Coba saja melempar tanpa ditiup, pesawat akan jatuh dan tak jauh melayang. Musti kutanyakan ini bagaimana mekanismenya pada Papa suatu waktu kelak.
Tak bisa kutanyakan pada Ibu, karna Ibu kadang cerewet memeriksa kertas pesawatku, katanya, "Attiiiiisssss.... dari mana lagi kau ambil itu kertas? Janganjangan kertas penting buat akreditasi!!!"
Apa itu akreditasi? Musti kutanyakan juga pada Ibu suatu waktu kelak.
Ibu juga suka mengomel kalau saya ketahuan naik di brankar untuk menerbangkan pesawat. Dia selalu takut saya jatuh. Padahal mustinya dia berpikir, bagaimana bisa menerbangkan pesawat bila tempatnya tidak tinggi. Langsung jatuh ke lantai toch! Tidak melayanglayang dulu.

Nah, hari ini saya direncanakan untuk ikut Ibu ke RS. Tadjuddin. Setelah mandi, saya duduk di depan TV menunggu Ibu siap.
Tapi tibatiba Puang Ibu menyuruhku untuk ikut dengannya ke Dadi, tempat kerja Puang Ibu. Katanya, "Ayo ikut sama Puang Ibu ke Dadi, sebentar kita pergi cabut gigimu, lalu kita pergi makan gadogado!"
Ah.... enaknya itu gadogado, saos kacangnya banyaaaak, telurnya 1 dan kerupuknya lebaaaar.....
Tapi cabut gigi? 
Saya berusaha menolaknya, takut, kataku, "Ikut Ibu saja, Puang Ibuuuuu..... cabut gigi sakiiiiit"
"Tidaklaaaah.... itu gigimu sudah goyang toch, cuma sedikit digoyang saja akan tercabut. Lagipula gigi di belakangnya sudah tumbuh, kalo tidak dicabut bisa jadi seperti giginya Barong yang  bersusunsusun. Ayoooo, baru kita pigi makan gadogado!"
"Ibuuuuuu....." seruku meminta pertolongan Ibu. Tapi rupanya Ibu setuju dengan perintah Puang ibu. Saya menyesal tadi tidak ikut Papa saja. Ibu betulbetul payah nih, tidak berusaha menyelamatkanku sedikit pun!

Akhirnya waktu cabut gigi pun tiba
Tidak usah saya ceritakan betapa sakitnya saat gigi itu ditarik keluar.
Padahal sebelumnya dikasi jelly strawberry dulu yang kata dokter gigi supaya waktu giginya keluar tidak nyeri.
Huh.... apaan tidak nyeri, it's nyeri sekali!! It's very very nyeri!!
Saya berteriak kaget, "AAA........!!!"
Trus saya disuruh gigit kapas.
Supaya tidak berdarah. Semua orang tertawa dan bertepuk tangan.
Kata mereka, saya anak pintar, dan berani, dan jagoan, dan kece (yang di belakang itu saya saja yang tambahkan, supaya lebih OK)
Tapi sebenarnya saya kecewa..... 
Gigiku ompong, sakit dan tidak dijajanin gadogado, karena tidak bisa mengunyah!!
Sepertinya saya tertipu!
Hm.... tapi saya tidak boleh terlihat cengeng, saya musti cerita ke Ibu dan Papa kalo saya berani, cuma berteriak sedikit. Sedikit sekali....
Waktu sekecil saya, pasti mereka takut sama yang namanya dokter gigi deh!
Pasti mereka mengkerut dan menangis sejadijadinya bila diajak ke dokter gigi. Tidak seperti saya. Saya yakin itu.

*besok musti jadi pigi makan gadogado
*mudahmudahan tidak tertipu lagi

RAPORT


Raport berasal dari bahasa Belanda, artinya laporan, berisi barisan angka atau huruf hasil pekerjaan dan penilaian. Baik buruknya hasil tersebut adalah simpulan dari rentetan testes.ulanganulangan.ujianujian selama ini.
Raport itu dibagikan tiap akhir catur wulan atau semester, sesaat menjelang libur
Jadi bisa dikatakan angka di Raport dapat menentukan kita bisa bersenangsenang selama liburan atau tidak
Bayangkan kalau raport jelek, pasti dapat omel orangtua,
"Kok angkanya rendah?"
"Kenapa kamu tidak ranking?"
"Apa saja yang kau pelajari selama ini, sampai angkamu jelek?"
Orangtua yang mengajukan pertanyaan seperti ini mungkin tidak pernah menganalisa :
- apa penyebab nilai anaknya rendah
- kenapa anaknya tidak ranking
- apa saja yang dipelajari anaknya selama ini
Dan pertanyaan yang paling penting adalah : ORANGTUA KE MANA DAN NGAPAIN AJA SELAMA INI ??
Sistem sekolah juga mungkin perlu dicermati, apakah perlu betul ranking itu?
Untuk apa ranking diadakan?
Kenapa musti dipertandingkan?
Kementrian Pendidikan perlu lebih teliti mengamati, bahkan bila perlu mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak. Kita perlu mempertimbangkan apakah tidak lebih baik kalau diseragamkan saja semuanya : ranking dihapus saja. Institusi yang bergerak di bidang pendidikan pun tentunya bisa lebih fokus pada kemajuan individu (anak) dari waktu ke waktu, bukan memperhatikan ranking yang naik turun di antara siswanya.
Ingat, anak adalah individu.
Anak bukan orang dewasa dalam bentuk mini.
Setiap anak adalah istimewa?
Setiap anak sama hak dan kewajibannya di sekolah, juga dalam hal bermain dan bersenangsenang dengan kawan seumurannya.
Dan, selayaknya, ini bukan untuk dipertandingkan.
Bukan untuk diranking :
menjadi yang paling pintar di kelas,
nomor 2 terpintar,
nomor 3,
sampai anak yang terbodoh di kelas (bisa saja, bila memang diurut)

Perasaan menjadi ranking 1 pastinya senang, karena misalnyaaaaaa...... mendapat hadiah setumpuk buku cerita yang dibeli di Gramedia Pasar Senin lantas ditraktir di restoran Sate Betawi terenak seJakarta, boleh minum teh Sosro sampai 2 botol pun PapaIbu okeoke saja
Tapi proses menuju ke ranking itu panjang, sosodara sekalian, berliku, sulit, terjal (apaan sih....) Syukursyukur bila saat ujian tidak sakit.
Trus bagemana perasaan anakanak lain yang mau juga merasakan jadi ranking 1? Seandainya bisa bergiliran atau bergantian....

Banyak cara untuk melatih semangat berkompetisi.
Anakanak yang suka menari atau menyanyi atau melukis atau kesenian lain dikumpulkan, dilatih bersama, lantas dipertandingkan.
Anakanak yang hobby berdebat (tidak termasuk mendebat orangtua dengan kepala batunya) dikumpulkan dalam tim debat, dibimbing lalu dipertandingkan.
Anakanak yang jago fisika, kimia, matematika, bahasa Arab masingmasing dipertandingkan (mudahmudahan tidak ada pertandingan fisika-kimia-matematika dalam bahasa Arab, sulitnya itu!!)
Anakanak yang suka olahraga saling diperlombakan.
Bahkan anakanak yang tidak suka semuanya, boleh dudukduduk di tepi lapangan menjadi Tim Hore, yang yelyelnya paling oke juga mendapat hadiah....
Semua senang
Semua bahagia

Oh ya jangan lupa, anakanak itu harus dipersiapkan pula mentalnya sebelum bertanding, sapatau ternyata kalah!
Mereka yang kalah harus dibesarkan hatinya bahwa walaupun tidak menang mereka adalah orangorang pilihan dari sekolah mereka, mereka tetap yang terbaik!

Untung saja sekolah Attis tidak menganut paham ranking ini
Mereka percaya semua anak istimewa, semua mendapat perhatian yang sama banyaknya.
Orangtua tidak dikumpulkan dan diumumkan siapa yang menjadi yang terbaik semester ini, tapi orangtua dipertemukan satu persatu dengan wali kelasnya, kami ngobrol soal angkaangka anak, soal tingkah laku mereka, soal perkembangan mereka selama 1 semester ini.
Angka yang tercantum di Raport pun adalah akumulasi monthly test dan ulangan semesternya
Dan disajikan dalam 3 lajur angka : angka standar sekolah, angka pribadi anak dan angka ratarata kelas.
Saya sebagai orangtua sangat senang dengan metode ini, apalagi melihat angka anak yang hampir semua jauh di atas ratarata standar dan ratarata kelas,
Saya ngakak ketika tau angka Mandarin Attis standar saja, tapi tertutupi oleh angka Sciencenya yang tinggi. Di situ saya makin yakin kalau dia bukan orang Tionghoa, tapi aseli Belanda (lho....).
Saya jadi tau bahwa dia sangat cepat menangkap pelajaran Ilmu Pasti dibanding yang lain
(mungkin bisa saya mulai mencicil peralatan kedokteran untuk Attis mulai sekarang!!) --> sabar Ibuuuuuuu.......
Saya juga tidak merasa perlu tau anak saya ranking berapa atau siapa anak terpintar di kelasnya karena itu tidak penting buat saya, buat sekolah, buat anak.

Begitulah
Itu pengalaman pertama saya menerima raport semester kelas 1 SD untuk Attis.
Ini foto tadi pagi waktu sedang antri.
Mudahmudahan selalu begitu
Dia tetap pintar, sehat dan selalu bahagia
Dan saya tetap narsis....

Need Vacation !!


When a very busy week just killed me!
Heeeeeeelppppp!!
#needvacation

#mercurekuta
#baliindonesia

Hmmmm....


Kalo jam segini masih di RS kemungkinannya adalah :
1. Hujan keras dan tidak adami petepete lewat
2. Terkunci di dalam OK
3. Akreditasi

*Akre ini menyeksakuh......

Rujak!


Akreditasi ini menyiksaku
Harus standby di kantor ndak boleh pecicilan ke manamana

Rujak ini menyiksaku
Ada di depanku di dalam ruanganku tapi belum sempat dimakan karena sibuk urus akre
 


Akreditasi ini menyiksaku
Karena ketentuan di OK tidak boleh ada piring/sendok/kompor/dapur

Semua sudah disembunyi di tempat aman oleh perawat OKku
Jadinya ndak bisa makan rujak toh
Rujak ini menyiksaku....

#lovelovelove


My lunch date today
#lovelovelove

Keep Calm and Play Music


Ada cerita sedikit,

Dahulu kala, di abad yang lalu, ada seorang anak perempuan yang tergilagila pada musik, bermimpi jadi pemusik, pemain gitar, pemain piano, pemain biola, pemain gendang, penyanyi, apa saja.... pokoknya ada hubungannya dengan nada dan irama.

Kelas 2 hingga 4 SD, dia sempat sekolah siang di Madrasah dekat tempat tinggalnya. Di pagi hari dia pergi bersekolah umum, siangnya sekolah mengaji hingga dekat waktu maghrib. Di sana selain belajar mengaji, membaca huruf gundul, menghapal ayat dan syariah, dia juga belajar memainkan rebana. Rebana gendang yang terbuat dari kulit kambing dan rebana ketimpring/krecekan yang tebuat dari logam yang bila digoyangkan akan menimbulkan bunyi krincing yang cukup nyaring. Rebana adalah alat musik perkusi yang diperlukan untuk keperluan shalawat atau apalah namanya waktu itu (kalau sekarang sih nashid/nasheed/acapella). Dengan iringan hentakan rebana dan alat musik lainnya terlantunlah lagu dan pujipujian pada Yang Kuasa. Selain itu acara adat seperti pernikahan atau penyambutan tamu di daerah juga menggunakan alat ini sebagai tetabuhan.
Udztas Goni dan Udztas Jaelani, dua bersaudara pemilik madrasah selalu menyambut anakanak di depan pintu kelas setiap pukul 2 siang. Mereka melewati kedua Guru itu sambil mengucapkan salam lantas masuk ke dalam kelas. Tidak mencium tangan karena sudah berwudhu, lalu kelas pun dimulai. 
Hari mengaji adalah dari Senin hingga Jumat. Setiap hari mereka membaca dan menghapal ayat sebanyak yang Udztas minta, membaca huruf gundul dan mempelajari tafsirannya. Tidak setiap hari mereka diberi pelajaran membunyikan rebana pun mendendangkan nasheed. Tiap tiba waktu bershalawat pun lebih sering Udztas yang menghentakkan tetabuhan pengiring nada.
Tapi bila kelas sudah usai, anakanak boleh meminjam alat musik itu dan membunyikannya perlahan sambil menyanyikan lagu apa saja. Tidak bisa lama karena waktu maghrib cepat tiba. Bila sudah harus beranjak pulang maka anakanak menyalami udztas, mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kanan salah seorang guru agama yang masih menjaga mereka sampai bubar itu. Tangan udztas harum sekali, wanginya merasuk tajam, meninggalkan jejak memori di gyrus otak si anak perempuan tersebut dan pastinya juga pada temantemannya. Lama berselang sejak itu, barulah mereka tau, bahwa tangan yang wangi itu disiram dengan harumharuman dari Tanah Arab, baunya sama dengan minyak yang dilabur ke batu Kabah, sama dengan wangi yang tercium bila kita masuk ke toko parfum di Mekkah dan Medinah. Kelak di kemudian hari, saat mengaromai wangi seperti itu lagi, langsung terkenang guru mengaji yang tangannya harum dan memainkan rebana dengan penuh semangat
Sesampai di rumah, karena masih terbawa adrenalin dan kadang wewangian dari bekas salaman di Madrasah, biasanya si anak perempuan masih menggumamkan lagulagu terakhir dan lemari pembatas kamar antara ruang tamu dan ruang makan menjadi sasaran. Menjadi gendang yang ditabuh.
Kadang diakhiri dengan baik, kadang pula berakhir dengan omelan Ibu atau Papanya yang menyuruh shalat maghrib.

Saat duduk di kelas 5 SD si anak perempuan dikenalkan dengan gitar klasik. Seorang kakak sepupunya memiliki gitar Yamaha klasik dan sangat piawai memetiknya. Si anak perempuan pun diajar memainkan lagu Happy Birthday dan Burung Kakatua.
"Kapan saya bisa main seperti Abang?" tanyanya bila si Abang mempertontonkan keahliannya.
"Sabaaaar.... semua ada waktunya, belajar yang gampang dulu..."
Dan gitar pun berpindah tangan
Menjadi milik si anak perempuan dan jrengjreng sendiri dengan modal jago-gitar-dengan-jurus-tiga-chord.
Inipun kadang berakhir baik, namun sayangnya, lebih sering berakhir dengan kalimat ini, "Main gitar teruuuuus.... ko mo jadi pengamenkaaah? Belajar!!"
Itu titah. Harus dilaksanakan. Belajar!! Belajar! Belajar.
Syukur, si anak perempuan itu sempat mengenyam kursus gitar di Yamaha Music School selama 8 bulan, bahkan sempat manggung di acaraacara sekolah SMP dan SMAnya
8 bulan? Delapan bulan? Iya hanya 8 bulan yang sempat diikutinya karena diakhiri oleh Papanya yang tidak mau mengantar kursus lagi.
"Kenapa kau kursus di Radio Madama?" tanya Papanya
"Radio Madama di lantai 3 Pa, kursus musiknya di lantai 2" jawab si anak perempuan
"Bukannya Yamaha itu toko alat musik saja?" tanya Papanya lagi
"Iya, tokonya di lantai 1 toh Pa, ituuu ..." tunjuknya melalui kaca toko, "Kursusnya di lantai 2"
"Tapi tidak ada temanmu Papa lihat..."
"Ada Papa..... kursusnya di lantai 2....."
Dan tidak lama berselang, berhentilah semuanya.

Perkenalan dengan  keyboard juga melalui seorang kakak sepupu. Dia memiliki sebuah keyboard merk Roland. Si anak perempuan selalu merengek diajar dan sedikit banyak ilmu pun berpindah. Ilmu turunan otodidak sebetulnya. Karena modalnya hanya bukubuku belajar keyboard sederhana dan buku lagu yang sedang trend di masa itu dari Gramedia. Namun karena si Abang lebih piawai mengiringi menyanyi, maka si anak perempuan itu pun lebih senang beryanyi akhirnya. Jago-keyboard-dengan jurus-5-chord pun sudah cukup untuk saat itu.
Kelas privat keyboard 3 bulan pernah pula dia ikuti. Ini punya tantangan yang berbeda.
Si anak perempuan sudah tumbuh besaaaaarrrrrr....... sudah nikah dan punya anak malah! Jadi sudah wanita, bukan anak perempuan kecil lagi.
Papanya pun sudah tak ada, tak ada lagi yang melarang main musik.
Tapi kursus yang hanya 3 bulan itu kadang dipenuhi dengan rasa frustasi berkepanjangan.
Jemari wanita ini tidak selentur jemari anakanak kecil lagi
Jemarinya sulit disuruh menari di atas tuts. Otak pun agak guncang bila disuruh bertugas lebih, antara motorik tangan kiri yang harus menekan chord dan tangan kanan yang bertanggungjawab untuk melodi, serta menghapal paduan nada yang timbul dari beberapa tuts yang ditekan sekaligus. Juga uruturutannya, manalagi tempo dan iringan background instrumennya.... aaah......  
Manalagi saat jam kursus usai, dia keluar dan bertemu dengan anakanak kacuping yang juga baru bubar dari kelas sebelah, tatapan mereka menghujam sampai dalam dada, nyaris tiba di tulang belakang, saat mereka mencocokkan buku mereka yang ternyata sama dengan buku yang wanita itu pegang. Tak ada anak kecil yang ditunggu, tidak pula sedang mengantar kursus anak tetangga.......
"Tante kursus juga?"  .... aaah.....

Maka dengan kesadaran penuh, wanita itu menetapkan bahwa petualangannya memainkan alat musik mungkin memang hanya sampai level 3 atau 5 chord saja.
Mungkin lebih baik dia jadi penyanyi!!
Dan foto di atas adalah foto pemain keyboard yang kelak akan mengiringi wanita itu bernyanyi.
Dia sudah menawarkan diri kok, "Ibuuuuu.... kalau Attis sudah pintar main, Ibu menyanyi dan Attis main kibor toh Ibuuuu......"
Senang kan.
Gantunglah citacitamu setinggi langit
Urusan tercapai atau tidak, tergantung Yang Maha Penentu saja
















December Can't Stop My Selphie!!


Time flies...
December has come!!
Mudahmudahan semuanya lancar, minyaknya ilang, senyumnya sempurna, sakkulunya hilang, tetap sehat, tetap bahagia

Ibu dan Attis


Digambar tepat setahun yang lalu 28 November 2014
Dan disodorkan dengan penuh cinta oleh my very gagah boy : Attis
Katanya, "Ibuuuu, ini ibuuuu..... ini Attis...."
Can you see that I am wearing a very beautiful necklace?
Oh my Attis, you are my priceless long necklace, I keep you around me, in front of my beating heart, near to my twin lung, and always in my mind

Hi From Us

Hi from us
Location : COT Chief Room
                RS. Dr. Tadjuddin Chalid Makassar

Thinking Out Loud

"Thinking Out Loud"
(Ed Sheeran)

When your legs don't work like they used to before
And I can't sweep you off of your feet
Will your mouth still remember the taste of my love?
Will your eyes still smile from your cheeks?

And, darling, I will be loving you 'till we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me - I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am

So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
Maybe we found love right where we are

When my hair's all but gone and my memory fades
And the crowds don't remember my name
When my hands don't play the strings the same way
I know you will still love me the same

'Cause honey your soul could never grow old, it's evergreen
And, baby, your smile's forever in my mind and memory
I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it's all part of a plan
Well, I'll just keep on making the same mistakes
Hoping that you'll understand

That, baby, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
Thinking out loud
Maybe we found love right where we are

So, baby, now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Oh, darling, place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
But maybe we found love right where we are
Oh, baby, we found love right where we are
And we found love right where we are

9 Taong Sudah


Rindu paskali deng dia
9 taong sudah dia pigi kastinggal beta
Lha masih jalas kaingatang dia pung baehati,
dia pung kasisayang,
dia pung palukang,
dia pung cikulucikulu voor beta (itu kagiatang aneh, kastempel dahi deng dahi, dia bilang, "Ciiikulucikulu' ini anaknya Papa, pintar lebe pintar dari beta eee, bae lebe bae dari beta eee, sayang Agi eeee..."),
dia pung tagas,
dia pung parhatiang,
dia pung gaya,
dia pung cara bajalang,
dia pung cara tasanyong,
dia pung cara baganggo,
dia pung baehati (ini su ditulis partama maar seng cukup, harus baulangulang)

Tuang Allah eee... dia ada baebae di sana to, bajanji jua voor beta kase tampat par dia yang bae eee...., yang tarang... yang sajuk, yang paling bagus eee....
Umpama beta bole kiring polo ciong voor dia, kase sampe jua Tuang eee....
Beta rindu paskali...

Sunholiday


Sunholiday @ Taman Wisata Bintang Galesong Takalar

Paris dan Friday 13th


Sebenarnya tidak terlalu suka Perancis dibanding negara Eropa lainnya.
Mungkin karena orangnya yang menurutku kurang ramah dibanding other europeans, bunyi bahasanya yang indah tapi sama sekali tak kumengerti selain je t'aime, atau karena 2 kali ke sana tidak pernah tinggal lama hingga tak kenal betul.

Apapun itu, Paris Attack semalam sungguh membuat gundah hati.
Korban yang terluka (>200 org) dan korban tidak selamat (150 orang) hanya masyarakat sipil dan turis yang tidak berdosa, tak punya sangkutan apapun dengan peneror
Sedihnya...
Headline di manamana bunyinya begini :
France has declared a national state of emergency and tightened borders after at least 150 people were killed in a night of gun and bomb attacks in Paris (141115)

Saya mau tanya, itu rombongan teroris yang meledakkan diri dengan bom di badannya, ada otak dan hatinya?
Sapatau kepalanya kosong dan hatinya sudah hilang.
Kejamnya mereka.

Tahanan Kota


Hai from Penjara
Tahanan dengan no. 27
*biasanya Sabtu mallagalaga saja...

HKN 51, 12112015


With a black ribbon circling my left arm, because something sad happened before
Doctors are accused in Gratifications problems
Doctors are suspected with many troubles
People did not know what the real story, what is in the real life of each doctor.
A young doctor died a day before HKN, in the middle of duty in Dobo Island, Aru, Maluku
It's very sad because he's just arrived there on May 2015, he's very smart, very humble and looks very happy to lived there with the locals.
When he's sick, the friends want to evacuated him to the bigger Island but he got worst rapidly, though the speedboat was ready to carry him.
He died then

Doctors are ordinaries, could in a happy, sad, healthy, sick conditions in a big town or in Indonesia's rimland out there
So please take a minute to think before say something judging, in this case, about doctors
Many of us are still work even in the bad circumstances bad environtment, we work in the rule, mingled with others without specialities, doing the job, looking for a happy and secure life as a doctor.
And a black ribbon circling our left arm said so

Gratifikasi = Anugrah ???


Apa itu gratifikasi?
Kalo anugrah mah saya tau : Anu Gratis Hahaha....
Kalo di kamusnya netizen maka anugrah itu ditulis gini :
Anugrah (noun) : barang dan jasa dari pihak pemberi yang berpindah dengan gratis (tidak perlu biaya dan atau barter barang) ke pihak penerima yang tentunya sangat bergembira
Lha kalo gratifikasi? Mungkin sama saja arti dan metodenya.
Pun berbeda, hanya di pemerannya saja.
Kalo anugrah dilakoni oleh saya dan bangsa alay lainnya, sementara kalo gratifikasi diperankan oleh orangorang yang lebih intelek.

Yayaya.... saya memang penerima anugrah/gratifikasi ini
Sejak dulu
Di sini saya mau membuat pengakuan
Pengakuan dosa
Dosa yang nikmatnya tiada tara
Lha bayangkan saja, hari geneeee dapat sesuatu gratis, ah.... nikmatnya....
Wong sekarang BAK saja musti bayar eee... jadi nikmat toh kalo gratis

Gratifikasi ini sudah diperkenalkan sejak dulu pada saya.
Yang saya ingat, orangtua saya sering menasehatiku begini, "Apa yang kita dapatkan hendaknya merupakan hasil usaha kita sendiri, jangan mengharap bantuan ataupun bersandar pada orang lain!"
Papa sangat keras dalam hal ini, ujarnya, "Jang suka pi batadatada mulut ka orang!!!"
(Jelas itu bahasa Belanda, jelas sekali...!!)
Artinya, jangan pernah pergi tadah mulut ke orang lain, jangan pernah minta makan ato barang gratisan dari orang lain, tidak boleh berharap sama orang lain!
"Jang parnah pasang muka kasiangkasiang ka orang!!"
Artinya, jangan pernah menampakkan wajah kesusahan pada orang lain, jangan pernah mengharapkan belas kasihan orang lain...

Tapi kenyataannya dalam aluralur berkehidupanku sering saya mendapat gratifikasi itu.
Mungkin gaya saya gaya batadatada mulut kali ya ato muka saya muka kasiangkasiang
Entahlah

Yang jelas saya adalah pelakon gratifikasi, tojengka!! Sumpah!!

Saat bertugas sebagai dokter PTT di Majene, saya sering diberi minyak kelapa (minyak Mandar) sama orang, gratis!
Tak terhitung jumlah kelapa, pisang, labu, pepaya, ikan asin, telur ikan tuingtuing (ikan terbang) untukku selama 3.5 tahun bertugas, gratis!! Sampai kadang kalo saya mau pulang ke Makassar, saya ndak pamit sama tetangga atau orang Puskesmas, karna kalo minta ijin tibatiba ada karung berdiri berisi kelapa atau dos berisi ikan asin bambangan yang beken itu.

Cerita lain terjadi saat naik bis Makassar-Majene atau sebaliknya, tak terhitung berapa kali saya dapat gratisan Roti Maros, salak pinrang atau jagung rebus! Kalau supir bis yang memberi berarti "jatah supir" itu karena bis berhenti istirahat di toko atau los penjual buah, biasanya kubalas dengan memberikan sepapan atau 2 papan vitamin. Kalau sesama penumpang bis yang membayari biasanya karena dia mantan pasien atau kawan kenalan. Senang kan....

Trua saat makan di restoran, pas mau membayar, ternyata bill sudah dibayarkan oleh entah siapa tadi, kadang pasien, kadang anggota DPR, Bupati, kawan kenalan dll
Kalo sudah gini kadang menyesal tadi pesan makanannya hemathemat!!

Belum lagi undangan makan gratis ke berbagai acara, nikahan, sunatan, akikahan, masuk rumah baru, naik jabatan, sampai takziah!!
Aaaah... pigi tadatada mulut duluuuuu.... ndak perlu masak kitaaaa....
Trus kalo pulang dari acara, biasanya ada rantang berjal an di belakangku!!
Rantang besar isi bermacam makanan pesta, bisa untuk makan 2 hari sebagai bujang lokal tempo itu!!
Ihhiiiii.... ndak masak 2 hari kitaaaaa!!

Waktu sekolah bedah, setelah selesai bantubantu dokter konsultan operasi, biasanya diajak makan, gratis!!
Ya iyyalah....
Atoooo langsung dikasi duit sama beliaubeliau itu, pemberian itu diawali dengan pertanyaan, "Ko sudah makan? Ambil ini duit ko pi makan eee....!"
Senangku! Karna biasanya duit berlebih sehingga bisa mengajak kawan makan berdua atau bertiga.
Ato bisa buat beli blus 1!! Biar ndak makan, yang penting gaya dengan baju baru toch!!
Sebagai anak sekolah, itu merupakan anugrah terindah
Sungguh!

Saat harus membawa tugas pendidikan pun kita sering menerima gratifikasi, karena bisa sekalian jalanjalan dengan fasilitas anugrah. Transport, makan minum, hotel, kadang dapat duit buat beli oleholeh juga dari konsulen. Yang penting tugas selsai dan tidak malumaluin.
Senangnya!

Nah ini bagian yang paling hot!
Saat temanteman dari perusahaan farmasi yang biasa disebut detailer ato agen representative mendatangi kami.
Ehm.....
Ada yang mau minum dulu? Sapatau haus!
Ato mau BAK dulu? Sapatau kebelet!
Selesaikan saja dulu minum ato ke belakangnya, nanti baru saya cerita lagi!

Nah, jadi, mereka itu datang, kadang bawa martabak, kadang nasi goreng
Hot kan??
Gratis!!
Dimakan bersama sambil ceritacerita ngalorngidul
Kadang mereka menawarkan sesuatu yang tidak dapat saya tolak rasanya.
Ikut acara ilmiah gratis!
Imingiming yang sangat menggiurkan, bukan?
Bagaimana menolaknya? Bisakah kita menolaknya? Mampukah?
Padahal katanya sih ada dana peningkatan SDM, dana ikut acara ilmiah yang dibolehkan. Dan ada Undangundang yang mengaturnya. Lagian kami dokter Indonesia dituntut mengumpulkan poin SKS untuk membuat ijin praktek. Bila poin ridak cukup, tak bisa mengurus perpanjangan registrasi dokter (STR)
Jadi?
Begini caranya, bisalah kita tanyakan apa yang harus dibalaskan ke perusahaan farmasi itu. Bagaimana persyaratannya.
Karena kadang mereka menganggap itu "hutang" kita pada mereka.
Bila dokter menerima ajakannya, maka harus memakai obat milik mereka ke pasienpasien. Hitunghitungannya ada, kata mereka.
Tentunya itu mengikat!
Pelajari obatnya, pelajari sendiri, selidiki dengan membaca dan membaca lagi, pakai ilmu Farmako, jangan belajar dari mereka saja, karna pasti keunggulan obatnya saja yang diutamakan. Selalulah berhatihati.
Bila kalian tak mau terikat, jangan terima mereka
Jika tak mau berhutang, sebaiknya dibicarakan di depan.
Kalau tak mampu membebani diri jangan cobacoba!

Pakai otak
Pakai hati
Pasien yang terindikasi perlu obat tertentu, cari dulu obat generik atau obat yang masuk formularium asuransi. Bila tidak ada, maka jejerlah obatobat paten itu, cari yang paling rendah harganya, pemilihan in a row, tidak pakai imingiming, tidak pakai hutang!
Ilmu farmakologi dipertajam lagi. Pelajari apa kelebihan dan kekurangan 1 jenis obat dengan nama yang berbedabeda.
Ada obat generik dengan harga murah efeknya lebih bagus ke pasien, ada pula obat paten dengan harga menjulang tokcermantep menghalau penyakit. Apa boleh buat kalo sudah begini. Yang penting itu yang terbaik.
Gila aja rasanya, memberikan tambahan penderitaan membeli obat pada pasien yang memang sudah sakit kasiaaaang.....
Coba liat dong pung muka kasiangkasiang itu eeee....
Mestinya ada welas asih kita sebagai dokter yang menangani pasien.

Itu resepku.
Begitulah.
Selama ini berhasilberhasil saja.
Saya bisa senangsenang saja.
Tanpa beban, tanpa hutang.

Jadi, jangan sampai gratifikasi itu menyiksa saya
Awas saja!
Tidak mau saya.
Bisa bangun Papa dari kuburnya kalo saya anehaneh.
Didatanginya saya, melotot dan bilang, "Kanapa Papa mati, ko jadi gila? Ko su seng punya hatikah?"
Yang ditanyakan hati bukan otak. Karena otak selalu ada di kepala apalagi selalu dipakai buat berhitung, tapi hati kadang sembunyi di belakang rusuk, lupa diingat dan tidak diindahkan
Pasti begitu, pasti!

Jadi tenangtenanglah wahai Dokter Indonesia, semua ada jalannya, terang lampunya, indah warnanya bila otak dan hati dipakai
Iman, ilmu, amal padu mengabdi
Insya Allah yang terbaik hasilnya.
 

THE SOUL © 2008. Template Design By: SkinCorner